Tuesday, February 16, 2010

Indonesia Raya

Mulai hari ini, saya akan mencoba menyelesaikan proyek "Indonesia Raya" lewat menampilkan hal-hal POSITIF saja tentang Indonesia (saya tidak mau ikut-ikutan menjadi orang yang pesimis dengan terus menerus mengejek kejelekan Indonesia), dan proyek "Ensiklopedi Penyakit dalam Bahasa Awam"

Dan artikel berikut ini adalah permulaannya, selamat menikmati.

-dr. Handojo Tjandrakusuma adalah seorang dokter asli Indonesia yang berhasil meraih penghargaan Sasakawa Health Award dari WHO untuk kontribusinya atas upaya rehabilitasi bagi penyandang cacat berbasis masyarakat (dan bukan berbasis institusi). Baru-baru ini beliau bersama rekan-rekannya juga membantu penyandang cacat akibat tsunami NAD dan gempa Jogja seperti diungkapkan laman berikut.
Dr. Handojo Tjandrakusuma has been the founder Director of CBRDTC since 1989.
On graduating from medical school, he became involved in rehabilitation, joining YPAC in 1967 as a volunteer. By 1975 he realised the limitations of institutional based
rehabilitation for people with disabilities in rural areas and he started to organize a
community development approach. In 1992 he was awarded the Sasakawa Health Award by the World Health Organisation (WHO) for his contribution to the conceptual
development of CBR

-Prof Dr Suwardjono Surjaningrat
Beliau pernah menjabat sebagai Presiden Sidang WHO (World Health Assembly), Kepala BKKBN yang pertama dan juga Menteri Kesehatan Indonesia di periode lampau. Dalam kutipan dari tautan berikut, beliau menegaskan kembali pentingnya Keluarga Berencana di era otonomi daerah sekarang ini khusunya bagi keluarga miskin.
Ini mengingatkan pertemuan saya dengan sepasang pemulung saat membantu razia anak jalanan bersama Dinas Sosial DKI Jakarta minggu lalu. Sang ibu datang kepada saya dalam keadaan hamil usia 7 bulan, dengan riwayat 2 anak sebelumnya lahir usia 7 bulan (prematur). Sang ibu belum pernah memeriksakan kehamilannya ke dokter karena malu dan tidak tahu biaya tiket puskesmas (walaupun ada rumah bersalin di puskesmas kecamatan yang buka 24 jam dengan harga tiket yang murah), juga tidak tahu tentang KB. Padahal Indonesia dulu pernah mendapat piagam dari WHO atas keberhasilan menekan laju pertumbuhan penduduk dengan program KB. Namun seiring turunnya Presiden Soeharto, perhatian atas pentingnya KB seakan lenyap begitu saja. Orang miskin semakin bertambah miskin karena tidak bisa berhenti beranak, kasus gizi buruk meningkat karena orang miskin tidak bisa memberi gizi pada anaknya yang banyak.
Oops, saya kelepasan membicarakan hal buruk tentang Indonesia lagi padahal saya sudah berjanji akan menerbitkan artikel tentang Indonesia yang positif saja.
Wassalam,

No comments: